Langsung ke konten utama

Postingan

Tragedi

  Tragedi: Ketika Penderitaan Menjadi Makna Manusia selalu mencari makna. Dalam tawa, kita ingin kebahagiaan; dalam duka, kita mencari penjelasan. Tapi di tengah kehidupan yang tak jarang dipenuhi penderitaan, muncul satu bentuk seni yang tak lari dari luka itu, justru menatapnya dalam: tragedi. Tragedi adalah seni yang paling jujur tentang kondisi manusia. Ia tidak menawarkan penyelamatan, tidak pula menjanjikan akhir yang bahagia. Tragedi menunjukkan manusia di ambang kehancuran, terseret oleh takdir, kesalahan, atau ketegangan moral yang tak terhindarkan. Namun justru di situlah letak kekuatannya: tragedi tidak menghindari penderitaan, tapi memberi bentuk dan makna padanya . Mengapa penderitaan menjadi lebih dapat diterima dalam tragedi? Karena seni, dalam bentuk tragisnya, mengubah rasa sakit menjadi pengalaman estetik dan reflektif . Tokoh-tokoh tragis seperti Antigone, Hamlet, atau bahkan tokoh modern seperti Joker atau Raskolnikov, menjadi cermin tempat kita melihat dir...

Ratapan Sang MCB

Ilustrasi “Ratapan Sang MCB” Aku si kecil di pojok dinding, Tak pernah dipuji, jarang dibimbing. Namaku MCB, penjaga tegangan, Bekerja diam, tak cari pujian. Namun kini nasibku makin kelam, Dicun tuanku tanpa dendam. Dipaksa kuat, bebanku dilipat, Gerinda, AC, mesin las melesat! Kupeluh deras, hatiku gentar, Arus melaju, nyaris terbakar. Tapi tuanku tertawa saja: “Tenang, yang penting nyala semua.” Oh PLN, dengarlah ratapanku, Bukan salahku jika kabel terbakar pilu. Aku cuma saksi dari ambisi, Yang ingin 450W menghidupi negeri. ------ By. Widhianto

Dunia Simulasi, Anime Sword Art Online: Game, Moral dan Kepercayaan

Tulisan ini berangkat dari video mengenai Dunia Simulasi [1] oleh akun channel Youtube Martin Suryajaya [2] yang memang memiliki konsistensi terhadap konten kefilsafatan. Martin Suryajaya berangkat dari hipotesis Nick Bostrom yang juga membahas mengenai simulasi yang berjudul “ Are You Living In A Computer Simulation?” [3] . Rasanya sangat hampir mustahil ketika dunia yang kita tempati termasuk isinya dan diri kita sendiri adalah sebuah simulasi dari sebuah komputer besar yang bekerja secara masif dan dikerjakan oleh sebuah entitas yang lebih cerdas dari manusia. Martin Suryajaya menyebutkan kemungkinan bahwa dunia hanyalah simulasi sangat kecil bahkan hampir mendekati mustahil atau yang disebut dengan istilah Highly Improbable karena kita dapat bergerak sendiri, berpikir sendiri dan lain lain dengan kesadaran sendiri, namun dapatkah hal itu membuktikan bahwa kesadaran kita adalah bukan ilusi? Martin Suryajaya mengatakan dalam videonya bahwa gagasan mengenai dunia simulasi sudah ...

Halt in the town square

Suatu ketika panggilan besar untukku dan keluarga besarku. Menggema isak tangis dan haru kehilangan pionir terakhir yang merekatkan tiang bambu yang berbeda. Sungguh ku rasa akan sebaiknya mengikuti apa kata pepatah nenek moyang, dipercaya dan tampak anggun namun tak pernah masuk dalam kemurnian jiwaku. Aku berangkat pukul 14.00 dari Semarang tempatku mengeksplorasi sudut tiap budaya yang berbeda. Kepulanganku menuju tempat asalku, Tegal terhenti tatkala terik matahari semakin redup. Beruntungnya tidak hujan saat itu, meskipun ini sedang musim hujan di bulan November. Aku menjumpai perhentian di kota sebelum tempat asalku, Pemalang. Aku memutuskan untuk melakukan pemberhentian di pusat kota itu dengan menikmati kopi yang sudah ku persiapkan dalam tremos serta rokok yang ku linting sendiri. Aku memarkir motor dengan jarak yang cukup jauh, namun aku berpikir bahwa aku akan duduk dekat dengan lokasi parkiran. Berjalan menyusuri ramainya kota dengan suasana yang cukup panas namun berawan. ...

The Archeology of Knowledge

  The Archaeology of Knowledge , bukan penyajian teori formal yang dibangun secara logis pada aksioma-aksioma, tetapi deskripsi tentang pendekatan khusus terhadap sejarah ("cara berbicara" tentang sejarah). Analisis arkeologi berusaha untuk menggambarkan sejarah wacana, himpunan 'hal-hal yang dikatakan' dalam semua interelasi dan transformasinya.  Proses-proses ini terjadi pada tingkat yang sangat spesifik, yang bukan tingkat peristiwa sejarah, atau tingkat 'kemajuan' teleologis ide-ide, atau tingkat akumulasi pengetahuan formal, maupun tingkat yang populer atau tidak terucapkan-Semangat zaman-"Analisis wacana" mengabaikan semua prasangka tentang kesatuan historis atau kontinuitas, yang menggambarkan proses wacana dalam semua gangguan, ambang batas, perbedaan, dan varietas yang kompleks.  Arkeologi , mengungkap kondisi-kondisi pengetahuan klinis ketika kondisi-kondisi itu terbentuk dalam wacana, atau semacam Genealogi mencari, seperti arkeologi, untu...

Hans-Georg Gadamer: Kebenaran dan Metode

Hans-Georg Gadamer adalah seorang filosof Hermeneutik yang dilahirkan di kota Breslau pada 11 Februari 1900. Kajian sederhana ini diinspirasi oleh kehebohan karya Gadamer yang berjudul Wahrheit und Methode. Grundziige einer philosophischen Hermeneutik [Kebenaran dan Metode: Sebuah Hermeneutika Filosofis Menurut Garis Besarnya] (1960). Selain berhasil melambungkan nama Gadamer sejajar dengan nama para filsuf sebelumnya, magnum opus ini juga berhasil mendobrak kebuntuan dunia pemahaman yang sempat mandek. Gadamer sengaja memberi judul bukunya yang monumental ini, Truth and Method (Kebenaran dan Metode), sarat dengan semangat polemik. Kalimat yang dipisahkan oleh kata dan menunjukkan adanya ketegangan tertentu. Ia ingin menantang secara konstruktif metode-metode empiris untuk masuk ke wilayah ilmu-ilmu humaniora. Untuk mencapai kebenaran dalam konteks konstelasi penafsiran, seorang hermeneut mesti lari dari cengkraman metode untuk kemudian menceburkan diri di tengah pusaran dialektika t...

Bersetubuh dengan Artificial Intellegence (AI) : Isu Posthuman di Kancah Industri Perfilman (Review Film Her (2013)).

Bisakah otak anda membayangkan dan menerima manusia yang jatuh cinta (sebenarnya cinta selayaknya cinta kepada seorang kekasih) dengan sebuah barang? Inilah yang akan anda alami dan yang menjadi premis di film Her karya Spike Jonze ini. Ada beberapa Jawaban yang dapat menjawab pertanyaan di atas. Pertama, anda dapat menjawab iya karena semua dapat saja terjadi, bahkan dalam masalah percintaan. Kedua, tidak karena bagaimanapun itu adalah barang atau benda mati. Sedangkan manusia sudah diciptakan berpasangan, laki-laki-perempuan. Film ini menceritakan seorang pria kesepian bernama Theodore Twombly yang diperankan oleh Joaquin Phoenix (pemeran joker dalam film ‘Joker’) yang bekerja di perusahaan jasa penulisan surat cinta. Hal ini sangat bertentangan denhan karakter Theorode sebagai pria introvert yang kesepian. Setting waktu film Her berada di masa depan dimana teknologi sudah sangat maju. Artificial Intellegence (AI) atau kecerdasan buatan sudah sangat mutakhir dan canggih. Theodore me...