Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Aku Sebuah Sungai

  Sungai yang Menemukan Lautnya Aku adalah sungai yang pernah mencoba menjadi danau untuk menenangkan badai dalam dirimu. Airku pernah kutahan, agar tak mengalir menjauh darimu, meski tiap tetesnya perlahan membusuk dalam diam. Aku takut, bahwa bila aku mengalir, kau akan tenggelam oleh kehilangan yang kau ciptakan sendiri. Namun kini aku mengerti sungai tak diciptakan untuk terperangkap. Ia harus mengalir, harus bertemu laut, harus menerima bahwa tidak semua yang kita tenangkan akan belajar untuk tenang bersama. Maka kuucapkan terima kasih, bukan untuk luka, tapi untuk pelajaran yang tumbuh dari luka itu. Dan aku pamit, bukan karena berhenti mencintaimu, tapi karena akhirnya aku mencintai diriku juga. Widhianto

Lepas Karena Cinta yang Agung

Pohon yang Tak Lagi Menunggu Hujan Aku pernah menjadi pohon yang tak tumbuh karena terlalu lama menanti hujan dari langit yang sibuk bercermin pada danau-danau asing. Daunku menguning bukan karena musim, tapi karena rindu yang tak pernah disirami dengan pengertian. Akar-akar sabarku menggali tanah mencari sisa-sisa harapan yang terkubur oleh janji yang tak pernah mekar. Lalu angin datang, bukan untuk membawa kabar, tapi untuk mengingatkanku bahwa pohon tak harus menunggu langit untuk tetap hidup. Maka kutumbuhkan ranting ke arah cahaya lain, kubiarkan burung-burung baru bersarang, dan tak lagi kusesali langit yang memilih padang lain untuk hujannya. Karena pohon juga bisa bertahan dengan akarnya sendiri, dan cinta… tak selalu berarti tetap berdiri di tempat yang sama. Widhianto

Bayangan hilang

"Bayangku yang Hilang di Cermin Orang Lain" Aku pernah berdansa di cermin yang tak memantulkan wajahku. Tertawa seperti penari boneka yang geraknya ditentukan tepuk tangan semu. Kusangka itu aku. Kupikir itu bahagia. Sampai suatu malam aku menatap bulan di genangan air dan tak melihat bayangku di sana. Aku telah menjadi siluet di lukisan orang lain. Warnaku luntur karena kuterima kuas yang tak kumengerti. Lalu kurangkai serpihan sunyi, kutemukan huruf-hurufku yang tersebar dalam percakapan tertunda, dalam buku-buku yang tak kubuka lagi, dalam lagu yang hanya kudengar diam-diam. Aku berjalan pelan, melewati ladang yang pernah kutanam, melewati cermin yang pernah kusapa, dan untuk pertama kalinya, aku menyebut namaku sendiri dengan suara yang tak gemetar lagi. Widhianto

Kau tak dengar

  "Ladang yang Kupelihara Sendiri" Pernah kutanam benih di ladang asing, tanahnya rapuh, retak, namun kupikir, mungkin ia hanya haus. Maka kupecah langitku sendiri agar hujan turun lebih dulu di sana. Kupangkas duri dari semak yang bukan milikku, kubersihkan jalannya dari lumpur masa silamnya, kutunggu pagi dengan sabar meski malamnya selalu membakar arah. Kukira, saat ladang mulai hijau, kau akan kembali membawa tanganmu dan menanam bersamaku. Tapi kau hanya datang untuk memetik bunga yang belum mekar, dan pergi lagi... meninggalkan akar dalam cemas. Kini ladang itu tumbuh liar, dipenuhi suara-suara yang bukan milikku. Aku, sang penjaga yang disingkirkan, berdiri di ujung pagar menatap hijau yang bukan untukku. Namun di balik semua itu, aku mulai menanam kembali di ladang milikku sendiri, yang tak akan kau jejaki. Dan dari bunga yang akan tumbuh nanti, kau hanya akan tahu dari harum yang tak lagi mengarah padamu. Widhianto

Ratapan Sang MCB

Ilustrasi “Ratapan Sang MCB” Aku si kecil di pojok dinding, Tak pernah dipuji, jarang dibimbing. Namaku MCB, penjaga tegangan, Bekerja diam, tak cari pujian. Namun kini nasibku makin kelam, Dicun tuanku tanpa dendam. Dipaksa kuat, bebanku dilipat, Gerinda, AC, mesin las melesat! Kupeluh deras, hatiku gentar, Arus melaju, nyaris terbakar. Tapi tuanku tertawa saja: “Tenang, yang penting nyala semua.” Oh PLN, dengarlah ratapanku, Bukan salahku jika kabel terbakar pilu. Aku cuma saksi dari ambisi, Yang ingin 450W menghidupi negeri. ------ By. Widhianto

PENCURI API

  Tragedi dan Halusinasi Mereka semu dan kita juga Barangkali kawannya mengharapkan belas kasih Aku katakan kita makhluk lemah Namun mereka jauh lebih lemah Mereka membunuh dengan darah di punggungnya Kawannya membunuh dengan dasi dan kemeja licin beraroma Paris Bukankah hidup itu indah? Menghayati dan mencintai hidup dengan biasa dalam harmoni nada Mozart di selipan detakkan Yang menarik pelatuk tak tahu, dia bunuh diri Kematian adalah mutlak dan ditakuti sekaligus disembah Pembunuhan adalah penghinaan atas kematian Bunuh diri adalah penghinaan atas kehidupan Bibir merekah seakan bunuh adalah hasrat naluriah Memandang harapan akan yang disana dan nanti dengan segala harapan Bunuh jalannya menuju yang disana Dia yang menghayati hidup akan terbunuh di kemudian.