Langsung ke konten utama

Postingan

Menolak LGBT Tanpa Kebencian: Di Antara Empati dan Ketegasan Moral

  Spektrum identitas gender dan orientasi seksual dalam masyarakat modern. Di tengah arus globalisasi dan liberalisasi informasi, diskusi mengenai orientasi seksual semakin terbuka. Di satu sisi, masyarakat sipil memperjuangkan penerimaan terhadap keberagaman identitas seksual, termasuk LGBT ( Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender ). Di sisi lain, sebagian orang mempertanyakan dasar ilmiah, sosial dan moralitas dari orientasi yang tidak sesuai dengan norma heteroseksual. Saya termasuk di antara orang-orang yang menghormati manusia sebagai manusia, terlepas dari orientasi seksual mereka. Namun, saya juga memegang keyakinan bahwa orientasi homoseksual adalah penyimpangan dari desain biologis manusia, bukan karena alasan agama atau ideologi konservatif, melainkan dari dasar logika biologis, fungsi sosial, dan moralitas yang terukur. Saya tidak datang dari arah konservatif. Saya tidak sedang membawa-bawa ayat kitab suci atau jargon tradisi. Saya hanya seorang manusia yang mencoba memaham...
Postingan terbaru

Aku Sebuah Sungai

  Sungai yang Menemukan Lautnya Aku adalah sungai yang pernah mencoba menjadi danau untuk menenangkan badai dalam dirimu. Airku pernah kutahan, agar tak mengalir menjauh darimu, meski tiap tetesnya perlahan membusuk dalam diam. Aku takut, bahwa bila aku mengalir, kau akan tenggelam oleh kehilangan yang kau ciptakan sendiri. Namun kini aku mengerti sungai tak diciptakan untuk terperangkap. Ia harus mengalir, harus bertemu laut, harus menerima bahwa tidak semua yang kita tenangkan akan belajar untuk tenang bersama. Maka kuucapkan terima kasih, bukan untuk luka, tapi untuk pelajaran yang tumbuh dari luka itu. Dan aku pamit, bukan karena berhenti mencintaimu, tapi karena akhirnya aku mencintai diriku juga. Widhianto

Lepas Karena Cinta yang Agung

Pohon yang Tak Lagi Menunggu Hujan Aku pernah menjadi pohon yang tak tumbuh karena terlalu lama menanti hujan dari langit yang sibuk bercermin pada danau-danau asing. Daunku menguning bukan karena musim, tapi karena rindu yang tak pernah disirami dengan pengertian. Akar-akar sabarku menggali tanah mencari sisa-sisa harapan yang terkubur oleh janji yang tak pernah mekar. Lalu angin datang, bukan untuk membawa kabar, tapi untuk mengingatkanku bahwa pohon tak harus menunggu langit untuk tetap hidup. Maka kutumbuhkan ranting ke arah cahaya lain, kubiarkan burung-burung baru bersarang, dan tak lagi kusesali langit yang memilih padang lain untuk hujannya. Karena pohon juga bisa bertahan dengan akarnya sendiri, dan cinta… tak selalu berarti tetap berdiri di tempat yang sama. Widhianto

Bayangan hilang

"Bayangku yang Hilang di Cermin Orang Lain" Aku pernah berdansa di cermin yang tak memantulkan wajahku. Tertawa seperti penari boneka yang geraknya ditentukan tepuk tangan semu. Kusangka itu aku. Kupikir itu bahagia. Sampai suatu malam aku menatap bulan di genangan air dan tak melihat bayangku di sana. Aku telah menjadi siluet di lukisan orang lain. Warnaku luntur karena kuterima kuas yang tak kumengerti. Lalu kurangkai serpihan sunyi, kutemukan huruf-hurufku yang tersebar dalam percakapan tertunda, dalam buku-buku yang tak kubuka lagi, dalam lagu yang hanya kudengar diam-diam. Aku berjalan pelan, melewati ladang yang pernah kutanam, melewati cermin yang pernah kusapa, dan untuk pertama kalinya, aku menyebut namaku sendiri dengan suara yang tak gemetar lagi. Widhianto

Kau tak dengar

  "Ladang yang Kupelihara Sendiri" Pernah kutanam benih di ladang asing, tanahnya rapuh, retak, namun kupikir, mungkin ia hanya haus. Maka kupecah langitku sendiri agar hujan turun lebih dulu di sana. Kupangkas duri dari semak yang bukan milikku, kubersihkan jalannya dari lumpur masa silamnya, kutunggu pagi dengan sabar meski malamnya selalu membakar arah. Kukira, saat ladang mulai hijau, kau akan kembali membawa tanganmu dan menanam bersamaku. Tapi kau hanya datang untuk memetik bunga yang belum mekar, dan pergi lagi... meninggalkan akar dalam cemas. Kini ladang itu tumbuh liar, dipenuhi suara-suara yang bukan milikku. Aku, sang penjaga yang disingkirkan, berdiri di ujung pagar menatap hijau yang bukan untukku. Namun di balik semua itu, aku mulai menanam kembali di ladang milikku sendiri, yang tak akan kau jejaki. Dan dari bunga yang akan tumbuh nanti, kau hanya akan tahu dari harum yang tak lagi mengarah padamu. Widhianto

Jika hidup adalah lagu favorit

Life without music is a mistake   Jika hidup adalah Lagu dari band favorit --- 🎬 Opening Scene – Pencarian dan Kesadaran > 🌌 Muse – Time Is Running Out Dia memulai hidup dengan rasa gelisah, bertanya-tanya tentang makna dan waktu. Dunia terasa sempit, tapi pikirannya luas. Ini adalah fase di mana ia sadar bahwa hidup bukan sekadar berjalan… tapi bertanya ke mana semuanya mengarah. > 🎧 Peterpan – Semua Tentang Kita Kenangan masa lalu, teman, keluarga, dan hal-hal yang telah hilang ikut mengisi ruang hati. Dia merenung dan mencoba berdamai dengan waktu yang tak bisa kembali. --- 🔥 Babak Tengah – Hasrat, Pemberontakan, dan Ledakan Jiwa > 🤘 Avenged Sevenfold – So Far Away Dia merasa kehilangan, tapi juga kuat. Lagu ini jadi simbol bahwa ia berani merasakan sakit sebagai bagian dari bertumbuh. > 🎤 Dewa 19 – Cinta Gila Ketika rasa cinta dan emosi meledak, Ia berada di antara kebebasan dan ketergantungan. Kadang ia menyerah pada rasa, kadang ia melawan. > ⚡ Bring Me T...

Tragedi

  Tragedi: Ketika Penderitaan Menjadi Makna Manusia selalu mencari makna. Dalam tawa, kita ingin kebahagiaan; dalam duka, kita mencari penjelasan. Tapi di tengah kehidupan yang tak jarang dipenuhi penderitaan, muncul satu bentuk seni yang tak lari dari luka itu, justru menatapnya dalam: tragedi. Tragedi adalah seni yang paling jujur tentang kondisi manusia. Ia tidak menawarkan penyelamatan, tidak pula menjanjikan akhir yang bahagia. Tragedi menunjukkan manusia di ambang kehancuran, terseret oleh takdir, kesalahan, atau ketegangan moral yang tak terhindarkan. Namun justru di situlah letak kekuatannya: tragedi tidak menghindari penderitaan, tapi memberi bentuk dan makna padanya . Mengapa penderitaan menjadi lebih dapat diterima dalam tragedi? Karena seni, dalam bentuk tragisnya, mengubah rasa sakit menjadi pengalaman estetik dan reflektif . Tokoh-tokoh tragis seperti Antigone, Hamlet, atau bahkan tokoh modern seperti Joker atau Raskolnikov, menjadi cermin tempat kita melihat dir...