"Ladang yang Kupelihara Sendiri" Pernah kutanam benih di ladang asing, tanahnya rapuh, retak, namun kupikir, mungkin ia hanya haus. Maka kupecah langitku sendiri agar hujan turun lebih dulu di sana. Kupangkas duri dari semak yang bukan milikku, kubersihkan jalannya dari lumpur masa silamnya, kutunggu pagi dengan sabar meski malamnya selalu membakar arah. Kukira, saat ladang mulai hijau, kau akan kembali membawa tanganmu dan menanam bersamaku. Tapi kau hanya datang untuk memetik bunga yang belum mekar, dan pergi lagi... meninggalkan akar dalam cemas. Kini ladang itu tumbuh liar, dipenuhi suara-suara yang bukan milikku. Aku, sang penjaga yang disingkirkan, berdiri di ujung pagar menatap hijau yang bukan untukku. Namun di balik semua itu, aku mulai menanam kembali di ladang milikku sendiri, yang tak akan kau jejaki. Dan dari bunga yang akan tumbuh nanti, kau hanya akan tahu dari harum yang tak lagi mengarah padamu. Widhianto