Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opini

Menolak LGBT Tanpa Kebencian: Di Antara Empati dan Ketegasan Moral

  Spektrum identitas gender dan orientasi seksual dalam masyarakat modern. Di tengah arus globalisasi dan liberalisasi informasi, diskusi mengenai orientasi seksual semakin terbuka. Di satu sisi, masyarakat sipil memperjuangkan penerimaan terhadap keberagaman identitas seksual, termasuk LGBT ( Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender ). Di sisi lain, sebagian orang mempertanyakan dasar ilmiah, sosial dan moralitas dari orientasi yang tidak sesuai dengan norma heteroseksual. Saya termasuk di antara orang-orang yang menghormati manusia sebagai manusia, terlepas dari orientasi seksual mereka. Namun, saya juga memegang keyakinan bahwa orientasi homoseksual adalah penyimpangan dari desain biologis manusia, bukan karena alasan agama atau ideologi konservatif, melainkan dari dasar logika biologis, fungsi sosial, dan moralitas yang terukur. Saya tidak datang dari arah konservatif. Saya tidak sedang membawa-bawa ayat kitab suci atau jargon tradisi. Saya hanya seorang manusia yang mencoba memaham...

Kebebasan, apakah ada? Pernahkah kita dengan sadar mempertanyakannya?

Terdapat jarak antara diri, kebebasan imajinatif dan kesadaran. Ilustrasi : gambar dari Ade Lyonna; keadaan memaksa tuk sadar namun selalu berpikir akan takdir. Dalam dunia perkuliahan khususnya yang menempuh studi filsafat takkan lepas dari yang namanya diskusi. Dalam diskusi kefilsafatan seringkali dipahami sebagai kebebasan berpikir dan penyampaian pendapat. Hal ini ditujukan agar terciptanya ruang diskusi. Namun, saya selalu bertanya terkait apa itu kebebasan, apakah kebebasan itu ada? atau hanya dalih untuk suatu kepentingan belaka? ideologi misalnya. Terkait dengan ideologi ada suatu faham ideologi yang sangat fanatik dengan kebebasan menurut saya yang pastinya sudah tak asing lagi di telinga kita, yakni liberalisme. Liberalisme menjunjung tinggi asas kebebasan, manusia bebas berbuat apa saja, hal ini berbanding terbalik dengan sosialisme yang menjunjung tinggi kesetaraan. Antara kebebasan dan kesetaraan selalu menjadi hal yang kontradiktif dan selalu menghasilkan perdebatan. Bah...

Kasus Nissa Sabyan dan Destruksi Pola Pikir

Baru-baru ini ramai sekali perbincangan di media sosial maupun di gosip-gosip tetangga bahkan di tongkrongan kalangan mahasiswa sekalipun mengenai isu yang terjadi pada salah satu publik figur Indonesia, Nissa Sabyan. Beberapa teman saya, hampir seluruhnya dapat ditemui di status whatsapp maupun ketika sedang bertemu dan ngobrol tentangnya menyalahkan Nissa. Selain itu banyak sekali yang bertanya kepada saya terkait tanggapan mengenai kasus ini. Jujur saja saya tidak terlalu mengikuti kasus seperti ini yang menurut saya receh sekali untuk ditanggapi. Namun, saya melihat hujatan dari Netizen kepada Nissa terlalu berlebihan. Mengapa tidak? Hujatan dari netizen selalu berangkat dari background Nissa yang notabene terkenal religius (dalam tulisan ini kata religius; baca : Islami) karena sering tampil dengan gaya religi (berjilbab, senang bersholawat, dan lain sebagainya). Mungkin kasus seperti ini sudah sering terjadi di Indonesia dimana oknum yang sering tampil religius tetapi dianggap m...