"Bayangku yang Hilang di Cermin Orang Lain"
Aku pernah berdansa
di cermin yang tak memantulkan wajahku.
Tertawa seperti penari boneka
yang geraknya ditentukan tepuk tangan semu.
Kusangka itu aku.
Kupikir itu bahagia.
Sampai suatu malam
aku menatap bulan di genangan air
dan tak melihat bayangku di sana.
Aku telah menjadi siluet
di lukisan orang lain.
Warnaku luntur
karena kuterima kuas yang tak kumengerti.
Lalu kurangkai serpihan sunyi,
kutemukan huruf-hurufku
yang tersebar dalam percakapan tertunda,
dalam buku-buku yang tak kubuka lagi,
dalam lagu yang hanya kudengar diam-diam.
Aku berjalan pelan,
melewati ladang yang pernah kutanam,
melewati cermin yang pernah kusapa,
dan untuk pertama kalinya,
aku menyebut namaku sendiri
dengan suara yang tak gemetar lagi.
Widhianto

Komentar
Posting Komentar