"Ladang yang Kupelihara Sendiri"
Pernah kutanam benih di ladang asing,
tanahnya rapuh, retak,
namun kupikir, mungkin ia hanya haus.
Maka kupecah langitku sendiri
agar hujan turun lebih dulu di sana.
Kupangkas duri dari semak yang bukan milikku,
kubersihkan jalannya dari lumpur masa silamnya,
kutunggu pagi dengan sabar
meski malamnya selalu membakar arah.
Kukira, saat ladang mulai hijau,
kau akan kembali membawa tanganmu
dan menanam bersamaku.
Tapi kau hanya datang
untuk memetik bunga yang belum mekar,
dan pergi lagi...
meninggalkan akar dalam cemas.
Kini ladang itu tumbuh liar,
dipenuhi suara-suara yang bukan milikku.
Aku, sang penjaga yang disingkirkan,
berdiri di ujung pagar
menatap hijau yang bukan untukku.
Namun di balik semua itu,
aku mulai menanam kembali
di ladang milikku sendiri,
yang tak akan kau jejaki.
Dan dari bunga yang akan tumbuh nanti,
kau hanya akan tahu
dari harum yang tak lagi mengarah padamu.
Widhianto

Komentar
Posting Komentar