Langsung ke konten utama

Postingan

Teodisi : Kejahatan dan Kebaikan (Filsafat Agama)

Fallen Angel Alexandre Cabanel's paint Bagi banyak orang, lebih dari apa pun, kedalaman dan tingkat penderitaan manusia yang mengerikan, bersama dengan keegoisan dan keserakahan yang menghasilkan begitu banyak hal ini, yang membuat gagasan tentang Pencipta yang pengasih tampak tidak masuk akal dan mengarahkan mereka ke salah satu tujuan. berbagai teori naturalistik agama. Daripada mencoba untuk mendefinisikan "kejahatan" dalam kerangka beberapa teori teologis (misalnya, sebagai "yang bertentangan dengan kehendak Tuhan"), tampaknya lebih baik untuk mendefinisikannya secara pura-pura, dengan menunjukkan apa yang dimaksud oleh kata tersebut. Itu merujuk pada rasa sakit fisik, penderitaan mental, dan kejahatan moral. Yang terakhir adalah salah satu penyebab dari dua yang pertama, karena rasa sakit manusia yang sangat besar muncul dari ketidakmanusiawian manusia. Rasa sakit ini termasuk bencana besar seperti kemiskinan, penindasan dan penganiayaan, perang, dan semua ...

NKRI Harga Mati sebuah slogan yang menjadi ideologi : Analisis Kritis teori hegemoni Antonio Gramsci.

Kemenangan Joko Widodo atas Prabowo dalam pilpres 2019 menandakan kemenangan keduanya atas Prabowo dua kali berturut-turut di ajang pesta demokrasi lima tahunan tersebut. Pesta Demokrasi di Indonesia sudah menjadi sebuah tradisi bagi bangsa Indonesia yang selalu dilaksanakan setiap lima tahun sekali. Pilpres tahun 2019 adalah terakhir kali pesta demokrasi di Indonesia dilaksanakan. Dalam pesta demokrasi terdapat pertarungan para calon presiden dan calon wakil presiden yang berebut menuju kursi kekuasaan tertinggi di Indonesia. Selain pertarungan sang calon juga terdapat pertarungan ideologi di kedua belah pihak. Pada pilpres 2019 pertarungan Ideologi antara kubu Jokowi dengan slogan NKRI Harga Mati dengan kubu prabowo dengan slogan NKRI bersyariat menjadi sangat terlihat. Dengan kemenangan ini terlegitimasi sudah ideologi yang dibawa kubu Jokowi sebagai ideologi yang mutlak dengan kuatnya di segala lini pemerintahan. Slogan NKRI harga mati sudah menjadi sebuah ideologi. Pada awalnya sl...

OTORITAS INTELEKTUAL DAN MORAL HARUN NASUTION UNTUK PEMIKIRAN ISLAM YANG KEBAHARUAN.

(source: republika.co.id) Prof. Dr. Harun Nasution merupakan seorang filsuf dan pemikir Islam yang dikenal memiliki kecerdasan intelektual dan sudah diakui yang lahir di Pematangsiantar, Sumatra Utara, 23 September 1919 dan wafat di Jakarta tanggal 18 September 1998. Harun Nasution pernah menjabat sebagai rektor IAIN Syarif Hidayatullah-sekarang UIN Syarif Hidayatullah. Prof. Dr. Said Agil Husin al Munawar, MA (2001 : X) pernah menuliskan tentang Harun Nasution bahwa beliau sangat berjasa bagi pengembangan program pascasarjana IAIN di Indonesia. Perbedaan pendapat dalam Islam adalah hal yang tidak asing dan memang sudah ada sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW. yang terus berkembang hingga hari ini. Umat Islam selalu sibuk dengan perdebatan akan perbedaan pendapat antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain sehingga melupakan apa yang sebenarnya mereka debatkan, apakah benar atau salah. Lalu bagaimana pemahaman terkait Islam yang...

Kebebasan, apakah ada? Pernahkah kita dengan sadar mempertanyakannya?

Terdapat jarak antara diri, kebebasan imajinatif dan kesadaran. Ilustrasi : gambar dari Ade Lyonna; keadaan memaksa tuk sadar namun selalu berpikir akan takdir. Dalam dunia perkuliahan khususnya yang menempuh studi filsafat takkan lepas dari yang namanya diskusi. Dalam diskusi kefilsafatan seringkali dipahami sebagai kebebasan berpikir dan penyampaian pendapat. Hal ini ditujukan agar terciptanya ruang diskusi. Namun, saya selalu bertanya terkait apa itu kebebasan, apakah kebebasan itu ada? atau hanya dalih untuk suatu kepentingan belaka? ideologi misalnya. Terkait dengan ideologi ada suatu faham ideologi yang sangat fanatik dengan kebebasan menurut saya yang pastinya sudah tak asing lagi di telinga kita, yakni liberalisme. Liberalisme menjunjung tinggi asas kebebasan, manusia bebas berbuat apa saja, hal ini berbanding terbalik dengan sosialisme yang menjunjung tinggi kesetaraan. Antara kebebasan dan kesetaraan selalu menjadi hal yang kontradiktif dan selalu menghasilkan perdebatan. Bah...

Kasus Nissa Sabyan dan Destruksi Pola Pikir

Baru-baru ini ramai sekali perbincangan di media sosial maupun di gosip-gosip tetangga bahkan di tongkrongan kalangan mahasiswa sekalipun mengenai isu yang terjadi pada salah satu publik figur Indonesia, Nissa Sabyan. Beberapa teman saya, hampir seluruhnya dapat ditemui di status whatsapp maupun ketika sedang bertemu dan ngobrol tentangnya menyalahkan Nissa. Selain itu banyak sekali yang bertanya kepada saya terkait tanggapan mengenai kasus ini. Jujur saja saya tidak terlalu mengikuti kasus seperti ini yang menurut saya receh sekali untuk ditanggapi. Namun, saya melihat hujatan dari Netizen kepada Nissa terlalu berlebihan. Mengapa tidak? Hujatan dari netizen selalu berangkat dari background Nissa yang notabene terkenal religius (dalam tulisan ini kata religius; baca : Islami) karena sering tampil dengan gaya religi (berjilbab, senang bersholawat, dan lain sebagainya). Mungkin kasus seperti ini sudah sering terjadi di Indonesia dimana oknum yang sering tampil religius tetapi dianggap m...